Representasi Identitas Pelajar Persis dalam Hymne Rijalul Ghad – Ummahatul Ghad

 

Representasi Identitas Pelajar Persis dalam Hymne Rijalul Ghad – Ummahatul Ghad [1]

Oleh: Thaifur Rayya Difadrana[2]

Pendahuluan

Organisasi pelajar Persatuan Islam (Persis) memiliki struktur kelembagaan yang khas dan sarat makna, sebagaimana tercermin dalam penamaannya: Rijālul Ghad untuk pelajar putra dan Ummahātul Ghad untuk pelajar putri[3]. Penamaan ini bukan semata nomenklatur simbolik, melainkan cerminan dari visi dan orientasi keilmuan yang diusung oleh organisasi tersebut. Dalam konteks keorganisasian kepelajaran, keberadaan Rijālul Ghad dan Ummahātul Ghad (selanjutnya disebut RGUG) merepresentasikan upaya pembinaan kader pelajar yang mengintegrasikan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial. RGUG berperan sebagai wadah pembinaan nilai dan pengembangan minat bakat santri dalam bingkai Al-Quran dan As-Sunnah yang berhaluan ideologis khas Persis.

RGUG didirikan pada tahun 1943 sebagai respons terhadap kebutuhan akan penguatan identitas pelajar yang tidak hanya unggul dalam aspek kognitif, tetapi juga militan dalam perjuangan dakwah. Seiring perjalanannya, RGUG memiliki simbol kultural berupa Hymne RGUG, sebuah lagu yang tidak hanya berfungsi sebagai identitas organisasi, tetapi juga sebagai instrumen ideologis dalam membentuk kesadaran kolektif kader. Lagu ini diciptakan oleh Ustaz Suraedi, seorang ulama sekaligus seniman yang dikenal sebagai pencipta berbagai lagu perjuangan dalam lingkungan Persis, seperti Mars Pemuda Persis, Mars Rijālul Ghad, Hymne Ummahātul Ghad, dan Hymne RGUG sendiri. Ustaz Suraedi mendapat amanat dari gurunya, almarhum Ustaz Abdurrahman, untuk berdakwah di Tasikmalaya. Karya-karya beliau merepresentasikan sinergi antara dakwah, seni, dan gerakan ideologis berbasis Al-Quran dan As-Sunnah.

Dalam realitas kontemporer, pelajar Persis menghadapi tantangan serius dalam hal konsistensi identitas[4]. Berbagai fenomena yang muncul di lingkungan pesantren maupun dalam lingkup RGUG menunjukkan adanya gejala krisis identitas. Gejala ini termanifestasi dalam bentuk ketidaksesuaian antara orientasi gerakan dengan nilai-nilai ideologis yang menjadi pijakan awal pendirian organisasi. Oleh karena itu, perlu adanya upaya revitalisasi identitas pelajar Persis secara kolektif dan berkesinambungan. Salah satu pendekatan yang dapat ditempuh adalah melalui reinterpretasi makna yang terkandung dalam Hymne RGUG, yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga sarat akan nilai-nilai perjuangan dan semangat kaderisasi.

Dalam kajian seni vokal, terdapat perbedaan konseptual antara mars dan hymne. Mars merupakan bentuk musikal yang ditandai dengan irama cepat, ritme yang menghentak, serta nuansa semangat dan militansi yang kuat[5]. Biasanya, mars digunakan dalam konteks pergerakan dan mobilisasi massa, karena mampu membangkitkan semangat kolektif. Sebaliknya, hymne lebih bersifat kontemplatif dan reflektif, dengan tempo lambat dan nada yang lebih lembut. Hymne digunakan untuk menyampaikan pujian terhadap tokoh besar, institusi, atau nilai luhur tertentu, serta menciptakan suasana khidmat dalam momentum-momentum penting. Dalam konteks RGUG, keberadaan hymne menjadi sarana peneguhan nilai dan penyadaran identitas bagi setiap kader pelajar Persis.

Dengan demikian, Hymne RGUG bukanlah sekadar karya musik, melainkan teks ideologis yang sarat makna simbolik. Ia menjadi artikulasi identitas kolektif, ekspresi ideologis yang mengikat pelajar Persis dalam bingkai nilai perjuangan Islam serta Konsekwensi lanjutannya adalah suatu keniscayaan himne dan mars ini menjadi kebijakan yang bersifat wajib diketahui, dihayati dan dipraktekan oleh seluruh santri di lembaga Pesantren Persis secara Nasional. Maka dari itu, kajian terhadap lirik dan makna Hymne RGUG menjadi krusial untuk memahami bagaimana identitas pelajar Persis dikonstruksi dan direproduksi melalui medium seni vocal.

Adapun Lirik Hymne RG-UG adalah sebagai berikut:

Rijalul Ghad,

Ummahatul Ghad

Organisasi santri sejati

Organisasi santri sejati.

 

Mari maju

mari maju

Mari majulah bahtera kami

mari majulah bahtera kami

 

Berjuang demi cita umat, umat

Menjungjung tinggi syiar Islam, Islam

 

Di bumi Allah Indonesia

Gemilang yang kami nantikan.

 

Pembahasan

Bait pertama Hymne RGUG dibuka dengan frasa “Rijālul Ghad, Ummahatul Ghad” yang secara literal berarti “Laki-laki masa depan, Perempuan masa depan”. Frasa ini tidak hanya menyebut identitas jenis kelamin, tetapi membentuk sebuah representasi ideologis bahwa santri laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab sejarah terhadap umat di masa depan. Dalam kerangka pemikiran Stuart Hall, identitas tidak bersifat tetap, melainkan merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural yang terus diproduksi melalui praktik dan simbol budaya, salah satunya melalui lirik lagu[6]. Nama Rijālul Ghad dan Ummahatul Ghad dalam hymne ini mengafirmasi bahwa pelajar Persis bukan sekadar individu belajar, melainkan agen yang sedang dipersiapkan untuk mengambil alih tongkat estafet dakwah dan kepemimpinan umat.

Baris selanjutnya berbunyi: “Organisasi santri sejati, organisasi santri sejati.” Kalimat ini diulang dua kali, menunjukkan teknik retorika penguatan makna. Dalam teori semiotika Roland Barthes, pengulangan bukan hanya bersifat estetis, tetapi memiliki fungsi semantik yaitu menekankan ide utama[7]. Di sini, makna "santri sejati" dilekatkan secara eksklusif pada keberadaan dalam organisasi RGUG. Artinya, santri yang aktif secara struktural dan ideologis dalam organisasi tersebut adalah bentuk ideal yang diakui. Dengan kata lain, keikutsertaan dalam organisasi ini bukan hanya aktivitas tambahan, tetapi merupakan inti dari identitas pelajar Persis itu sendiri.

Dalam praktik performatifnya, hymne ini dinyanyikan secara responsorial atau balas-membalas antara dua entitas utama dalam organisasi, yakni Rijālul Ghad (RG) dan Ummahātul Ghad (UG), yang masing-masing merepresentasikan santri putra dan santri putri. Secara struktural, lirik dinyanyikan terlebih dahulu oleh RG, kemudian direspon oleh UG, menciptakan pola interaktif yang memperkuat makna kolektif dan kohesi antaranggota. Pola ini bukan sekadar aspek musikal, melainkan juga bentuk representasi simbolik dari relasi komplementer antara laki-laki dan perempuan dalam ruang perjuangan dan kaderisasi santri.

Dalam perspektif studi budaya dan musik performatif, bentuk nyanyian semacam ini merefleksikan struktur sosial yang menekankan partisipasi timbal balik sebagai fondasi komunitas ideologis, sehingga setiap individu tidak hanya menjadi pendengar pasif, melainkan terlibat aktif dalam perayaan identitas bersama.Jika dianalisis melalui lensa semiotika Roland Barthes[8], bait ini memuat tiga tingkatan makna: denotatif, konotatif, dan mitologis. Denotatifnya, ini hanya menyebut nama organisasi dan penegasan keanggotaannya. Namun, secara konotatif, frasa ini memberi pesan bahwa menjadi santri sejati berarti menjadi bagian dari gerakan terorganisir yang memiliki nilai dan arah perjuangan. Mitos yang dibentuk oleh pengulangan ini adalah bahwa keberadaan dalam RGUG adalah jalan alami bagi pelajar untuk menjadi manusia ideal dalam keislaman, keumatan dan perjuangan.

Lebih jauh, Barthes menilai bahwa mitos dalam budaya populer berperan dalam mendepolitisasi pesan ideologis dengan menjadikannya tampak alamiah atau kodrati. Dalam konteks ini, hymne RGUG tidak hanya membentuk kesadaran, tetapi juga menyisipkan ideologi bahwa pelajar Persis harus berjuang dan belajar dalam ruang organisasi santri yang berbasis pada Al-Quran dan As-Sunnah. Maka, keikutsertaan dalam perjuangan bukan sekadar bentuk partisipasi sosial, tetapi merupakan “kewajiban moral” yang dilegitimasi melalui narasi budaya dan simbolik seperti hymne ini. Yang menjadikan RGUG ini menjadi sebuah ruang untuk pembelajaran sosial, perjuangan nilai dan wadah asah dalam potensi.

Dengan demikian, bait pertama hymne RGUG memuat representasi identitas pelajar Persis sebagai sosok futuristik, kolektif, dan ideologis. Identitas ini dibentuk bukan melalui pengakuan personal, tetapi melalui keterlibatan dalam belajar dan perjuangan. Hymne ini menjadi semacam “teks ideologis” yang mengukuhkan bahwa pelajar sejati adalah mereka yang terlibat dalam penjaga Al-Quran dan As-Sunnah, memahami peran keummatan, dan siap berjuang demi kemuliaan Islam di masa depan. Lagu ini tidak hanya menjadi ekspresi artistik, tetapi juga menjadi alat reproduksi nilai-nilai inti dari kaderisasi Persatuan Islam.

Baris kedua hymne ini dibuka dengan ajakan kolektif: "Mari maju, mari maju", yang secara langsung menggambarkan identitas santri sebagai subjek aktif dalam perubahan. Ajakan ini tidak bersifat personal, tetapi ajakan untuk berjamiyyah. Dalam teori identitas kolektif Gunawan, identitas tidak hanya dibentuk oleh keanggotaan simbolik, tetapi juga melalui praktik bersama yang penuh kesadaran dan emosi kolektif, seperti perjuangan, kebersamaan, dan harapan yang terlibat dalam organisasi[9]. Ajakan untuk maju menandakan adanya visi gerakan yang progresif—bahwa santri RGUG bukanlah pasukan diam, melainkan pasukan yang siap bergerak menghadapi tantangan zaman. Berkehidupan berjamiyyah ditanam dalam lirik ini.

Kalimat selanjutnya, "Mari majulah bahtera kami", diulang dua kali, dan secara simbolik menyamakan organisasi dengan bahtera. Bahtera dalam tradisi Islam adalah simbol keselamatan dan perjalanan spiritual, seperti bahtera Nabi Nuh ‘alayhi al-salām. Dalam konteks ini, RGUG diposisikan sebagai kendaraan kolektif untuk mengarungi samudera kehidupan, yang hanya akan berhasil jika semua elemen di dalamnya bergerak maju bersama. Penggunaan metafora seperti “bahtera” menciptakan pemetaan makna yang mendalam, di mana organisasi bukan hanya struktur, tetapi tempat pembentukan keselamatan ideologis dan moral.

Pengulangan frasa "mari maju" dan "majulah bahtera kami" secara musikal dan semantik memperkuat urgensi gerakan. Ini menciptakan nuansa mobilisasi kader, tidak hanya sebagai bagian dari kegiatan, tetapi sebagai bentuk kesadaran kolektif atas misi dakwah dan tanggung jawab sejarah. Dalam praktik budaya organisasi Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Fuadi, lagu-lagu seperti hymne memainkan peran sebagai "medium integratif" antara individu dan struktur, serta memperkuat etos perjuangan dan kepemimpinan[10].

Dari perspektif Barthes, bait ini menghadirkan mitos mobilitas ideologis[11]. Organisasi bukanlah benda mati, tetapi bahtera yang penuh harapan dan visi. Lirik ini adalah pembentukan mitos bahwa keberhasilan dan keselamatan individu hanya dapat dicapai dalam kerangka berjamiyyah. Mitos ini membentuk keyakinan bahwa di luar bahtera RGUG, santri kehilangan arah.

Melalui bait ini, identitas pelajar Persis dibentuk sebagai pribadi militan, bergerak, dan bernafaskan jamiyyah. Santri RGUG tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tetapi membawa visi bersama dalam “bahtera” organisasi. Lirik ini mendorong semangat kebersamaan, pengorbanan, dan disiplin ideologis—ciri khas yang membedakan kaderisasi Persis dengan pendidikan konvensional. Bahtera ini bukan hanya kendaraan, tetapi simbol iman, struktur, dan harapan yang mengarahkan seluruh kehidupan santri menuju cita-cita umat yang lebih luas.

Bait terakhir dari hymne ini membuka cakrawala identitas pelajar Persis ke dalam dimensi geografis dan spiritual. Frasa “di bumi Allah Indonesia” adalah sintesis antara konsep teologis (bumi Allah) dan nasionalitas (Indonesia). Ini menggambarkan bahwa pelajar Persis tidak hidup dalam ruang yang netral, melainkan dalam ruang yang penuh tanggung jawab keislaman dan kebangsaan. Dalam kerangka nasionalisme religius, sebagaimana dijelaskan oleh Bambang, umat Islam Indonesia memandang tanah air sebagai amanah ilahiah yang harus dijaga, bukan sekadar entitas politik atau administratif[12]. Oleh karena itu, identitas pelajar Persis mencakup dua poros: keberagamaan dan kebangsaan yang bersatu dalam tanggung jawab seorang anak bangsa.

Ungkapan “bumi Allah” merujuk pada pandangan dunia Islam (Islamic worldview) bahwa seluruh bumi adalah milik Allah dan manusia hanyalah khalifah di dalamnya. Dengan demikian, pelajar Persis diposisikan sebagai agen representatif Allah dalam mewujudkan nilai-nilai keadilan, ilmu, dan tauhid di tanah airnya. Ini selaras dengan konsep al-khilāfah al-insāniyyah dalam etika Islam, di mana manusia ditugaskan memakmurkan bumi berdasarkan petunjuk ilahi. Maka, keberislaman pelajar Persis tidak terpisah dari kesadaran geo-sosial mereka sebagai warga bangsa yang memiliki tanggung jawab terhadap negaranya.

Dari lirik ini lahirlah identitas pelajar Persis selanjutnya adalah menjadi seseorang yang membumikan Al-Qur’an dan As-Sunnah di Indonesia. Hal ini pun menjadi tantangan bagi pelajar Persis, selain menjadi sorang pelajar harus bisa membaca keadaan sosial umat dan bangsa. Menjadi seorang yang hadir sebagai Solusi berbasis Al-Quran dan As-Sunnah.

Baris kedua, “Gemilang yang kami nantikan,” menyiratkan sebuah visi eskatologis kolektif: masa depan yang gemilang, mulia, dan ideal, tetapi masih berada dalam jangkauan perjuangan. “Gemilang” menjadi simbol dari kemenangan nilai-nilai Islam di bumi Indonesia—bukan hanya dalam pengertian politik, tapi juga dalam ilmu, moralitas, ekonomi, dan kebudayaan. Gagasan tentang masa depan yang diidealkan ini disebut sebagai "orientasi tujuan rasional": tindakan kolektif diarahkan oleh visi tertentu yang menuntut usaha dan pengorbanan[13]. Maka, identitas pelajar Persis dalam hymne ini dipenuhi oleh pengharapan dan tanggung jawab menuju “masa gemilang” tersebut.

Gemilang disinipun dapat diartikan sebagai cita-cita besar dari RGUG tersebut. Adalah Al-Quran dan As-Sunnah yang membumi. Menjadikan segala perbuatan dan Tindakan RGUG sebagai ibadalah. Sebagaimana moto dari RGUG, Hayyatuna Kulluha ‘Ibadah, semua hidup kami adalah ibadah.

Jika ditinjau dengan pisau analisis semiotika Barthes, bait ini adalah mitos tentang kesatuan iman dan tanah air. Menyebut Indonesia sebagai “bumi Allah” menghapus dikotomi antara nasionalisme dan keimanan—tidak sepakat akan paham sekulerisme , sekaligus membingkai perjuangan dalam ruang domestik sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Barthes menyebut fungsi mitos ini sebagai “penyamaran ideologi”, di mana realitas ideologis (nasionalisme Islam) dikonstruksi seolah-olah alamiah dan niscaya[14]. Dalam konteks ini, pelajar Persis tidak diberi ruang untuk memisahkan cinta tanah air dari dakwah Islam, karena keduanya telah dilebur dalam satu narasi kolektif melalui hymne ini. Bahwa Islam dan negara itu tidak bisa berpisah, tidak bisa jalan satu-satu.

Secara keseluruhan, bait ini menutup hymne RGUG dengan menegaskan bahwa identitas pelajar Persis adalah komitmen transenden dan historis. Mereka adalah khalifah di bumi Allah, sekaligus warga Indonesia yang membawa harapan besar atas masa depan umat. Visi tentang “gemilang” menjadi energi ideologis yang menyalakan semangat kaderisasi, pendidikan, dan menegakan Al-Quran dan As-Sunnah dalam tubuh RGUG. Dengan demikian, hymne ini tidak hanya menjadi nyanyian, tetapi menjadi “manifesto ideologis” bagi pelajar Persis dalam menyatukan keislaman dan keindonesiaan secara utuh dan integral.

 

Penutup

Hymne RGUG bukan sekadar lagu organisasi, melainkan sebuah teks ideologis yang mengonstruksi identitas pelajar Persis dalam kerangka keislaman, keorganisasian, dan keindonesiaan. Setiap bait dalam hymne memuat pesan simbolik dan retoris yang dirancang untuk membentuk kesadaran kolektif kader sebagai santri sejati, pejuang umat, dan warga negara yang bertanggung jawab. Dengan menggunakan pisau analisis semiotika Roland Barthes, dapat disimpulkan bahwa hymne ini bekerja secara denotatif, konotatif, hingga mitologis dalam membangun identitas kader yang utuh—baik secara spiritual, sosial, maupun politis.

Hymne ini juga merepresentasikan proses internalisasi nilai-nilai dakwah dan perjuangan melalui narasi liris yang membangun kekuatan jamiyyah tentang masa depan umat Islam. Identitas pelajar Persis tidak hanya dibentuk melalui kegiatan formalitas semata, tetapi juga melalui simbol budaya seperti hymne yang memperkuat loyalitas, visi, dan cita-cita bersama. Dalam hal ini, lagu menjadi instrumen penting dalam pendidikan ideologis, membentuk pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara komitmen terhadap dakwah dan perjuangan.

Oleh karena itu, hymne RGUG menjadi konsekwensi lanjutannya adalah suatu keniscayaan hymne ini menjadi kebijakan yang bersifat wajib diketahui, dihayati dan dipraktekan oleh seluruh santri di lembaga Pesantren Persis secara Nasional yang mengintegrasikan nilai-nilai tauhid, perjuangan serta Al-Quran dan As-Sunnah yang membumi. Lagu ini menjadi ruang simbolik di mana pelajar Persis diajak memahami posisinya sebagai bagian dari gerakan dakwah. Dengan demikian, pembacaan terhadap hymne ini bukan hanya soal estetika musikal, tetapi juga merupakan kajian penting tentang bagaimana identitas kolektif dibentuk, disebarkan, dan dilestarikan dalam budaya kaderisasi Islam kontemporer.

 

 

Referensi

anonym. “Isu Permasalahan Pendidikan Sekolah Umum Persis Yang Digelontorkan Sebelum FGD.” persis.co.id, 2016. https://persis.or.id/news/read/isu-permasalahan-pendidikan-sekolah-umum-persis-yang-digelontorkan-sebelum-fgd.

Barthes, Roland. Elemen-Elemen Semiologi. 1st ed. Yogyakarta: Basabasi, 2012.

———. MITOLOGI. 2nd ed. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006.

Hall, Stuart. “□ Cultural Identity and Diaspora.” In Colonial Discourse and Post-Colonial Theory, 392–403. Routledge, 2015.

Hanif Fuadi, Muhamad, and Salman Alfarisi. “Dakwah Dengan Seni Musik.” Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Dakwah 4, no. 1 (2023). https://doi.org/10.19105/meyarsa.v4i1.8137.

Junaidi, La. “Mengenal Organisasi Santri Rijalul Ghad Ummahatul Ghad.” https://persis92majalengka.com/mengenal-organisasi-santri-rijalul-ghad-ummahatul-ghad/, 2020. https://persis92majalengka.com/mengenal-organisasi-santri-rijalul-ghad-ummahatul-ghad/.

Mintargo, Wisnu. “Fungsi Dan Makna Lagu Perjuangan Indonesia,” 2018.

Subandi, Bambang. “Nasionalisme Relijius Sebagai Strategi Dakwah Struktural.” In Proceeding of International Conference on Da’wa and Communication, 1:224–34, 2019.

Weber, Max. Sosiologi Agama. IRCiSoD, 2019.

Wibisono, Gunawan, and Drajat Tri Kartono. “Gerakan Sosial Baru Pada Musik: Studi Etnografi Pada Band Navicula.” Jurnal Analisa Sosiologi 5, no. 2 (2018). https://doi.org/10.20961/jas.v5i2.18108.

 



[1] Disampaikan saat Mastasa SMA Plus Muallimin 182 Rajapolah pada Rabu, 16 Juli 2025

[2] Penulis merupakan pemateri dan alumni SMA Plus Muallimin 182 Rajapolah Angkatan 16

[3] La Junaidi, “Mengenal Organisasi Santri Rijalul Ghad Ummahatul Ghad,” https://persis92majalengka.com/mengenal-organisasi-santri-rijalul-ghad-ummahatul-ghad/, 2020, https://persis92majalengka.com/mengenal-organisasi-santri-rijalul-ghad-ummahatul-ghad/.

[4] anonym, “Isu Permasalahan Pendidikan Sekolah Umum Persis Yang Digelontorkan Sebelum FGD,” persis.co.id, 2016, https://persis.or.id/news/read/isu-permasalahan-pendidikan-sekolah-umum-persis-yang-digelontorkan-sebelum-fgd.

[5] Wisnu Mintargo, “Fungsi Dan Makna Lagu Perjuangan Indonesia,” 2018.

[6] Stuart Hall, “□ Cultural Identity and Diaspora,” in Colonial Discourse and Post-Colonial Theory (Routledge, 2015), 392–403.

[7] Roland Barthes, Elemen-Elemen Semiologi, 1st ed. (Yogyakarta: Basabasi, 2012).

[8] Roland Barthes, MITOLOGI, 2nd ed. (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006).

[9] Gunawan Wibisono and Drajat Tri Kartono, “Gerakan Sosial Baru Pada Musik: Studi Etnografi Pada Band Navicula,” Jurnal Analisa Sosiologi 5, no. 2 (2018), https://doi.org/10.20961/jas.v5i2.18108.

[10] Muhamad Hanif Fuadi and Salman Alfarisi, “Dakwah Dengan Seni Musik,” Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Dakwah 4, no. 1 (2023), https://doi.org/10.19105/meyarsa.v4i1.8137.

[11] Barthes, MITOLOGI.

[12] Bambang Subandi, “Nasionalisme Relijius Sebagai Strategi Dakwah Struktural,” in Proceeding of International Conference on Da’wa and Communication, vol. 1, 2019, 224–34.

[13] Max Weber, Sosiologi Agama (IRCiSoD, 2019).

[14] Barthes, MITOLOGI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fungsi pendidik dalam Al-Quran adalah Dakwah

Musibah: Media Melatih Tabah

Jangan Berhenti Berpikir, Membaca dan Menulis