Gerakan Tauhid Sosial, Nilai Aksiologi Laa Ilaaha Illallah
Di tengah dunia yang dipenuhi sekat dan persaingan, umat Islam dipanggil kembali untuk menafsirkan ulang makna terdalam dari kalimat Laa ilaaha illallah. Kalimat ini bukan hanya pernyataan teologis tentang keesaan Tuhan, melainkan juga deklarasi moral dan sosial yang menuntut manusia untuk hidup dalam kesatuan kasih. Tauhid bukan hanya keyakinan di dalam dada, tetapi juga harus hidup dalam relasi kemanusiaan. Di sanalah lahir apa yang dapat disebut sebagai gerakan tauhid social, sebuah kesadaran bahwa persaudaraan sesama Muslim merupakan manifestasi hidup dari kalimat tauhid itu sendiri.
Ketika seseorang mengucapkan Laa ilaaha illallah,
ia sejatinya sedang menolak segala bentuk egoisme, kezaliman, dan perpecahan
yang bertentangan dengan keesaan Tuhan. Kalimat itu tidak berhenti di langit,
tetapi turun ke bumi dalam bentuk kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian.
Seorang Muslim tidak bisa mengaku mentauhidkan Allah sementara hatinya masih
membenci saudaranya. Maka, dalam pandangan aksiologis Islam, tauhid
meniscayakan cinta dan kepedulian sosial.
Allah menegaskan dalam firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا
بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara,
maka damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu
mendapat rahmat.” (QS.
Al-Ḥujurāt [49]: 10)
Ayat ini bukan sekadar seruan moral, melainkan juga
tuntutan teologis. Keimanan seseorang diukur dari kemampuannya menegakkan
perdamaian dan kasih. Persaudaraan adalah rahmat yang lahir dari takwa. Maka,
siapa yang ingin dirahmati oleh Allah, harus menanamkan kasih terhadap sesama
mukmin. Di titik inilah ukhuwah Islamiyah menjadi jalan menuju rahmat ilahi.
Rasulullah ﷺ menjelaskan makna ukhuwah dalam hadis
yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim. Beliau bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ
وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ
عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (HR. al-Bukhārī, Kitāb
al-Adab, no. 6011; Muslim, no. 2586)
Sanad hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhārī dari
Yahyā ibn Bukayr → al-Layth → ‘Uqayl → Ibn Shihāb → Anas ibn Mālik رضي الله
عنه. Hadis ini menggambarkan umat Islam sebagai satu tubuh. Jika satu bagian
merasa sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan gelisah. Gambaran ini
sangat dalam: umat Islam adalah satu organisme spiritual. Luka di satu bagian dunia
Islam, entah di Gaza atau di Rohingya, adalah luka di seluruh tubuh umat.
Persaudaraan dalam Islam bukanlah kesepakatan
sosial buatan manusia, melainkan ikatan ruhani yang berakar pada iman. Ia tidak
bergantung pada kesamaan ras, bahasa, atau budaya, melainkan pada pengakuan
bersama terhadap keesaan Allah. Inilah mengapa Rasulullah ﷺ menegaskan,
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzalimi dan
tidak menyerahkannya (kepada musuh).” (HR. al-Bukhārī, no. 2442).
Persaudaraan sejati dibangun di atas tanggung jawab dan perlindungan, bukan
sekadar keramahan sosial.
Sejarah mencatat, Rasulullah ﷺ telah menjadikan
persaudaraan sebagai fondasi pertama masyarakat Islam di Madinah. Setelah
hijrah, beliau mempersaudarakan kaum Muhājirīn dan Anṣār. Peristiwa ini bukan
hanya politik, tetapi spiritual. Mereka saling berbagi rumah, harta, dan kasih
tanpa pamrih. Allah memuji mereka dengan firman-Nya:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ
بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri
mereka sendiri, meskipun mereka sendiri dalam kesusahan.” (QS. Al-Ḥasyr [59]: 9)
Ayat ini adalah cermin dari aksiologi tauhid:
pengorbanan diri demi kebersamaan. Dalam kasih kepada sesama, seorang mukmin
sebenarnya sedang menegakkan keesaan Allah, karena ia menolak berhala terbesar
dalam dirinya, yaitu egoisme.
Kisah heroik para sahabat juga menjadi cermin
nyata. Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (Kitāb al-Maghāzī, no. 3910)
bahwa setelah Perang Uhud, Sa‘d ibn al-Rabī‘ yang terluka parah masih sempat
berpesan kepada ‘Abd al-Raḥmān ibn ‘Awf, “Sampaikan salamku kepada kaumku dan
katakan kepada mereka laa ‘udzra lakum ‘inda Allah in khuliṣa ila nabiyyikum
faramahu al-‘adu, tidak ada alasan bagi kalian di sisi Allah bila
Rasulullah diserang sementara kalian masih hidup.” Kalimat ini menggema
sepanjang zaman, cinta
kepada sesama bukan hanya belas kasih, tetapi juga pembelaan atas kehormatan
umat dan agama.
Ukhuwah sejati juga tampak dalam kisah tiga sahabat
yang sedang kehausan di medan perang. Ketika satu per satu ditawari air, mereka
justru menyuruh pembawa air mendahulukan yang lain. Hingga ketiganya wafat
tanpa sempat meminumnya. Kisah ini diriwayatkan oleh al-Ṭabarānī dalam al-Mu‘jam
al-Kabīr (no. 11447). Dari peristiwa itu, tampak bahwa kasih sesama Muslim
bukan slogan, tetapi pengorbanan eksistensial, mencintai saudaranya lebih dari
dirinya sendiri.
Gerakan tauhid sosial sesungguhnya sudah dimulai
sejak masa Rasulullah ﷺ. Beliau membangun Madinah bukan dengan tembok dan pasar
terlebih dahulu, tetapi dengan ikatan kasih. Inilah revolusi spiritual terbesar
dalam sejarah umat manusia: membangun masyarakat atas dasar cinta, bukan
kekuasaan. Di tangan Rasulullah, ukhuwah menjadi strategi sosial dan spiritual
sekaligus.
Jika tauhid adalah fondasi teologi, maka ukhuwah
adalah fondasi aksiologinya. Sebuah tauhid tanpa kasih kepada sesama akan
melahirkan keimanan yang kering dan berjarak. Sebaliknya, kasih yang tidak
berpijak pada tauhid akan kehilangan arah dan tujuan. Karena itu, kedua unsur
ini tidak dapat dipisahkan. Tauhid tanpa ukhuwah hanyalah monolog, dan ukhuwah
tanpa tauhid hanyalah emosi sosial.
Gerakan tauhid sosial menuntut setiap Muslim untuk
menumbuhkan empati terhadap penderitaan saudaranya. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ
مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai
ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhārī, Kitāb al-Īmān,
no. 13; Muslim, no. 45)
Hadis ini menegaskan dimensi etis dari iman. Cinta
kepada sesama adalah bukti konkret keimanan. Seorang mukmin yang melihat
saudaranya lapar lalu diam saja, sesungguhnya belum memahami makna Laa
ilaaha illallah secara utuh.
Gerakan tauhid sosial adalah panggilan untuk menegakkan
kembali keseimbangan antara iman dan amal, antara ubudiyah dan insaniyah. Dalam
kerangka ini, setiap tindakan sosial seperti memberi makan, menolong,
menghibur, menegakkan keadilan adalah ibadah, karena semuanya bermuara pada
pengakuan bahwa seluruh manusia adalah hamba Allah. Di sinilah Islam menolak
dikotomi palsu antara dunia dan akhirat.
Dalam konteks global hari ini, semangat tauhid
sosial menjadi sangat relevan. Ketika umat Islam tercerai-berai oleh perbedaan
politik dan mazhab, ketika penderitaan satu bangsa Muslim tidak lagi
menggetarkan yang lain, maka sebenarnya penyakit terbesar kita adalah lemahnya
tauhid sosial. Kita masih mengucap kalimat tauhid, tetapi belum hidup di bawah
naungannya.
Tauhid sosial bukan ide utopis. Ia pernah menjadi
kenyataan sejarah di bawah Rasulullah dan para sahabat. Ia membentuk generasi
yang saling menanggung beban, saling menguatkan dalam cinta, dan menjadikan
iman sebagai dasar peradaban. Inilah peradaban kasih yang berakar pada wahyu.
Kembali kepada ukhuwah Islamiyah berarti kembali
kepada jantung ajaran Islam itu sendiri. Setiap pelukan kepada saudara seiman
adalah bentuk zikir yang hidup, setiap bantuan adalah doa yang bergerak, dan
setiap kepedulian adalah tafsir dari kalimat Laa ilaaha illallah. Dari
tauhid lahir cinta, dari cinta lahir gerakan sosial.
Pada akhirnya, kasih sayang sesama Muslim bukanlah
sekadar keindahan moral, melainkan bentuk nyata keimanan. Rasulullah ﷺ
menegaskan, “Ar-Rāḥimūna yarḥamuhum ar-Raḥmān” “Orang-orang yang penyayang akan
disayangi oleh Tuhan Yang Maha Penyayang.” (HR. Abū Dāwūd, no. 4941).
Maka, setiap langkah yang diiringi kasih kepada sesama adalah langkah menuju
rahmat Allah.
Umat Islam hari ini perlu menumbuhkan kembali
kesadaran bahwa ukhuwah bukan retorika, tetapi revolusi ruhani. Ia bukan
sekadar perasaan lembut, tetapi juga tindakan nyata yang menghapus kesenjangan,
memeluk perbedaan, dan membangun solidaritas. Dari sanalah Islam akan kembali
hidup sebagai peradaban yang memancarkan kasih, bukan kebencian.
Jika setiap Muslim benar-benar memahami bahwa
saudaranya adalah bagian dari dirinya, maka tidak akan ada ruang untuk saling
menzalimi. Seorang mukmin sejati bukan hanya beriman untuk dirinya sendiri,
tetapi juga untuk kebahagiaan seluruh umat. Maka, setiap gerakan kebaikan
sosial sejatinya adalah gema dari Laa ilaaha illallah, kalimat yang menafikan berhala
ego dan menegakkan cinta ilahi dalam kehidupan manusia.
Wallahu A’lam
Komentar
Posting Komentar