MEMBACA BANDUNG, MENUNTUN GERAKAN: Literasi sebagai Nafas Awal Kepemimpinan PD Hima Persis Kota Bandung

PENDAHULUAN

Siklus pergantian kepemimpinan dalam sebuah organisasi kemahasiswaan sering kali terjebak dalam ruang formalitas yang profan. Pelantikan lazimnya hanya dimaknai sebagai ritual seremonial penggugur kewajiban administrative, sebuah peristiwa panggung untuk melanggengkan kontinuitas struktural semata. Namun, ketika Pimpinan Daerah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PD Hima Persis) Kota Bandung secara sadar memilih Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kota Bandung sebagai arena pelantikan, seremoni tersebut bertransformasi menjadi sebuah statement ideologis. Pemilihan ruang ini bukan sekadar pilihan logistik atas pertimbangan fasilitas tempat, melainkan sebuah tindakan simetris yang menyatukan ruang fisik, memori sejarah, dan paradigma gerakan.

Secara filosofis, ruang tidak pernah bersifat netral; ruang senantiasa melahirkan dan mentransmisikan makna. Dengan melangsungkan pelantikan di Disarpus, sebuah institusi yang menjadi benteng kearsipan sekaligus episentrum literasi Kota Bandung, Hima Persis sedang menegaskan garis demarkasi gerakannya. Bahwa, kekuasaan struktural organisasi harus tunduk pada adab keilmuan dan kebenaran ilmiah. Di tengah arus zaman yang kerap mendegradasi gerakan mahasiswa menjadi sekadar instrumen politik praktis yang pragmatis dan transaksional, langkah ini merupakan bentuk reorientasi untuk mengembalikan gerakan mahasiswa pada khittah kepeloporannya, yakni sebagai gerakan intelektual (intellectual movement) (Fatah, 1998).

Pilihan ideologis ini menemukan momentum historisnya saat dikaitkan dengan akar tradisi gerakan Persatuan Islam (PERSIS). Sejak awal berdirinya di Bandung pada tahun 1923, PERSIS tidak pernah dilepaskan dari tradisi literasi tulisan, riset mendalam, dan perdebatan pemikiran yang berbasis argumentasi ilmiah. Tokoh-tokoh pencerah seperti A. Hassan dan Mohammad Natsir tidak menggerakkan massa melalui agitasi politik yang dangkal, melainkan melalui artikulasi gagasan yang dituangkan dalam lembaran-lembaran jurnal, risalah, dan buku (Federspiel, 2009). Dengan demikian, menjadikan literasi sebagai "nafas awal" dalam pelantikan PD Hima Persis Kota Bandung adalah bentuk rekoneksi historis dan epistemologis terhadap spirit pergerakan para pendiri organisasi.

Oleh karena itu, tulisan ini hendak membedah secara komprehensif bagaimana kondisi literasi Kota Bandung saat ini, dialektika sejarah Disarpus sebagai ruang memori kolektif, filosofi di balik simbolisme lokasi pelantikan, serta bagaimana literasi dikonstruksikan sebagai ruh awal yang menjiwai seluruh takdir gerakan PD Hima Persis Kota Bandung ke depan.

KONDISI LITERASI KOTA BANDUNG: POTENSI DAN TANTANGAN

Kota Bandung, secara historis maupun sosiologis, telah lama menahbiskan dirinya sebagai episentrum pendidikan dan pergulatan intelektual di Jawa Barat. Secara statistik, potensi literasi masyarakat Kota Bandung menunjukkan tren indikator yang relatif positif. Berdasarkan pengukuran kinerja institusi daerah, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) maupun Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Bandung secara konsisten berada pada kategori tinggi. Capaian ini ditopang oleh masifnya infrastruktur pendidikan, menjamurnya komunitas literasi independen, serta ketersediaan ruang-ruang baca publik yang terinstitusionalisasi, salah satunya di bawah naungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kota Bandung (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung, 2018). Indikator kuantitatif ini pada hakikatnya merupakan modal sosial (social capital) yang sangat berharga bagi Hima Persis untuk menjadikan kota ini sebagai laboratorium inkubasi gagasan.

Namun demikian, pembacaan yang kritis terhadap realitas menuntut kita untuk tidak terjebak pada glorifikasi angka-angka statistik semata. Di balik tingginya indeks literasi tersebut, tersembunyi tantangan struktural dan kultural yang jauh lebih kompleks. Tantangan terbesar literasi saat ini bukan lagi semata-mata persoalan aksesibilitas terhadap bahan bacaan (iliferasi), melainkan krisis pada tingkat "ketahanan membaca" (reading endurance) dan kedalaman komprehensi.

Memasuki era disrupsi digital yang ditandai dengan fenomena banjir informasi (infodemic), pola konsumsi teks masyarakat modern cenderung bergeser ke arah yang superfisial, instan, dan fragmentaris. Masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa, semakin rentan terjebak dalam ruang gema algoritmik (echo chambers) yang secara perlahan menumpulkan nalar kritis. Dalam kondisi patologis ini, literasi kerap kali mengalami reduksi makna, yaitu terdegardasi menjadi sekadar keterampilan kognitif untuk mengeja teks (dekoding) tanpa dibarengi dengan kemampuan untuk mengontekstualisasikan, mengkritisi, dan mendekonstruksi struktur sosial yang timpang di sekitarnya (Dewayani & Retnaningdyah, 2017).

Di titik paradoksal inilah PD Hima Persis Kota Bandung menemukan urgensi gerakannya. Menghadapi ekosistem masyarakat perkotaan yang surplus informasi namun sering kali defisit makna, gerakan mahasiswa tidak boleh lagi mendefinisikan literasi secara pasif. Literasi harus diresapi sebagai sebuah "praktik sosial" dan pisau analisis. Transformasi dari sekadar kecakapan "membaca teks" menuju kemampuan "membaca realitas" (reading the world) adalah prasyarat epistemologis yang mutlak harus dimiliki kader Hima Persis sebelum mereka merumuskan langkah-langkah advokasi kebijakan publik dan pengabdian masyarakat di Kota Bandung.

SEJARAH DAN SIMBOLISME DISARPUS KOTA BANDUNG

Untuk memahami secara mendalam arti penting lokasi pelantikan ini, dinamika keberadaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kota Bandung tidak boleh dipandang sebatas institusi birokrasi penyedia jasa perpustakaan dan penyimpanan berkas semata. Secara historis, keberadaan Disarpus merupakan buah dari transformasi kelembagaan daerah yang dirancang untuk menjaga memori kolektif (collective memory) sekaligus menyediakan ruang pertumbuhan intelektual bagi warga kota. Institusi ini lahir dari penggabungan dua entitas penting, yaitu fungsi kearsipan dan fungsi perpustakaan umum Sebagaimana diamanatkan dalam penataan kelembagaan perangkat daerah Kota Bandung guna mengoptimalkan tata kelola pengetahuan (knowledge management) di tingkat lokal (Pemerintah Kota Bandung, 2016).

Secara spasial, gedung Disarpus Kota Bandung yang berdiri di kawasan strategis Kota Bandung bukan sekadar bangunan fisik penampung rak-rak buku dan lemari arsip. Institusi ini mengemban dua fungsi simbolis yang sangat krusial dalam struktur kebudayaan masyarakat urban:

Pertama, sebagai Ruang Inkubasi Gagasan (Perpustakaan). Perpustakaan adalah arena demokratis di mana pengetahuan diproduksi, didistribusikan, dan didiskusikan tanpa sekat-sekat hierarki sosial. Di ruang ini, tradisi literasi dihidupkan melalui perjumpaan gagasan antar-generasi.

Kedua, sebagai Benteng Memori Kolektif (Kearsipan). Arsip adalah jejak kebudayaan, jejak kebijakan, dan rekam jejak perjuangan yang menolak untuk dilupakan (against oblivion). Suatu peradaban atau gerakan yang kehilangan arsipnya adalah gerakan yang mengalami amnesia sejarah.

Oleh karena itu, Disarpus Kota Bandung secara filosofis berdiri di persimpangan antara Masa Lalu (melalui jejak arsip yang tersimpan) dan Masa Depan (melalui ilmu pengetahuan yang dipelajari di perpustakaan). Menjadikan tempat ini sebagai arena pelantikan kepengurusan PD Hima Persis Kota Bandung memancarkan simbolisme yang amat kuat. Kehadiran kader-kader Hima Persis di Disarpus menegaskan komitmen gerakan yang tidak pernah ahistoris. Hima Persis Kota Bandung menempatkan dirinya sebagai pewaris memori perjuangan masa lalu yang bersiap merumuskan takdir dan arah peradaban masa depan berbasiskan kedalaman riset dan kekuatan arsip pengetahuan (Abdullah, 1993).

FILOSOFI PELANTIKAN PD HIMA PERSIS KOTA BANDUNG DI DISARPUS

Melangsungkan prosesi pelantikan kepengurusan di lingkungan Disarpus Kota Bandung membawa implikasi filosofis yang mendalam terhadap pemaknaan kekuasaan dan kepemimpinan dalam organisasi kemahasiswaan. Dalam tradisi politik dan pergerakan, pelantikan acapkali diperlakukan sebagai ritual legitimasi kekuasaan struktural. Namun, penempatan prosesi ini di sebuah gedung perpustakaan dan kearsipan melakukan sakralisasi terbalik: ia menggeser fokus dari sebatas perayaan entitas struktural menuju pengukuhan tanggung jawab intelektual.

Secara epistemologis, pilihan lokasi ini menegaskan sebuah tesis bahwa kepemimpinan PD Hima Persis Kota Bandung harus tunduk pada adab keilmuan dan kebenaran ilmiah. Di ruang yang dikelilingi oleh ribuan literatur dan catatan sejarah ini, kepengurusan baru diajarkan untuk bersikap tawaduk di hadapan ilmu pengetahuan. Orientasi kekuasaan kepengurusan tidak boleh dibangun di atas kehendak subjektif, agitasi tanpa basis data, atau pragmatisme gerakan semata. Sebaliknya, setiap narasi, sikap politik, dan kebijakan organisasi yang lahir dari kepengurusan ini harus dituntun oleh hasil riset yang terukur, argumentasi yang rasional, serta metodologi pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan (scientific attitude) (Kuntowijoyo, 2006).

Selain itu, filosofi pelantikan di rumah literasi ini merupakan manifestasi konkret dari pengejawantahan ayat pertama yang diturunkan dalam Al-Qur'an, yakni perintah Iqra’ (QS. Al-'Alaq: 1–5). Dalam konteks gerakan mahasiswa Islam, perintah untuk "membaca" tidak boleh direduksi sekadar sebagai aktivitas mekanis melafalkan huruf atau teks tertulis. Iqra’ adalah perintah peradaban (civilizational imperative) untuk melakukan observasi, analisis mendalam, pemaknaan realitas, serta pembongkaran terhadap realitas sosial yang timpang (Shihab, 1996).

Dengan demikian, mengikrarkan sumpah jabatan kepengurusan di Disarpus Kota Bandung adalah bentuk "kontrak peradaban". PD Hima Persis Kota Bandung memproklamasikan bahwa nafas awal kepemimpinannya dimulai dari kesadaran untuk membaca realitas umat dan bangsa secara kritis sebelum melangkah untuk melakukan rekonstruksi dan gerakan pembaruan (tajdid).

LITERASI DAN RISET SEBAGAI NAFAS AWAL DALAM GERAKAN PD HIMA PERSIS KOTA BANDUNG

Menjadikan literasi sebagai "nafas awal" dalam tubuh PD Hima Persis Kota Bandung bukanlah sekadar eksperimen retoris atau slogan seremonial belaka. Secara historis-ideologis, konsep ini merupakan re-aktualisasi atas tradisi pemikiran Persatuan Islam (PERSIS) yang sejak era pergerakan nasional ditopang oleh kekuatan literasi. Genealogi intelektual PERSIS dibangun melalui tradisi risalah, jurnalistik, debat publik ilmiah, dan penerbitan karya-karya kritis oleh tokoh pembaharu seperti A. Hassan dan Mohammad Natsir (Federspiel, 2009). Dalam konteks ini, literasi bukanlah elemen pelengkap (komplementer), melainkan pondasi epistemologis utama (fundamental) dalam menggerakkan roda organisasi.

Ketika literasi diposisikan sebagai "nafas awal", maka seluruh helaan napas gerakan PD Hima Persis Kota Bandung ke depan harus senantiasa dijiwai oleh tiga orientasi strategis:

1. Transformasi Perkaderan Berbasis Riset (Research-Based Cadre Building): Proses transformasi kader di tubuh Hima Persis Kota Bandung tidak boleh lagi hanya mengandalkan doktrinasi pasif. Literasi menuntut hadirnya iklim akademis yang menitikberatkan pada kemampuan analisis kritis, metodologi penelitian, dan penulisan ilmiah. Kader Hima Persis dituntut untuk "membaca" dinamika sosial-keagamaan Kota Bandung melalui instrumen akademis yang terukur.

2. Advokasi Kebijakan Publik yang Berbasis Data (Data-Driven Advocacy): Gerakan respon sosial dan aksi jalanan yang dilakukan oleh Hima Persis tidak boleh terjebak pada populisme komunal atau agitasi emosional tanpa arah. Setiap bentuk advokasi terhadap kebijakan Pemerintah Kota Bandung harus didahului oleh kajian literatur, riset kualitatif/kuantitatif, serta manuskrip analisis kebijakan (policy brief) yang matang. Literasi memastikan bahwa suara Hima Persis adalah suara sains dan kebenaran akademis.

3. Inkubator Literasi Masyarakat (Public Literacy Incubation): Sebagai bagian dari tanggung jawab pengabdian masyarakat, PD Hima Persis Kota Bandung tidak hanya berhenti pada aktivitas pembacaan internal, tetapi juga harus hadir sebagai enabler literasi bagi warga kota. Mengakselerasi ruang-ruang diskusi publik, mengaktivasi simpul perpustakaan komunitas, hingga mendampingi literasi digital masyarakat urban adalah wujud nyata translasi gerakan (Mastuhu, 2004).

Dengan demikian, literasi sebagai nafas awal akan melahirkan kepemimpinan yang berkarakter Tajdid (pembaruan)—sebuah kepemimpinan yang tidak tumpul saat berhadapan dengan kompleksitas zaman dan tidak gagap ketika merespons isu-isu kerakyatan di Kota Bandung.

PENUTUP

Penyelenggaraan pelantikan Pimpinan Daerah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PD Hima Persis) Kota Bandung di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kota Bandung bukanlah sekadar dinamika pemilihan lokasi secara acak, melainkan sebuah manifestasi komitmen ideologis dan akademis yang fundamental. Di tengah tren pergerakan mahasiswa yang kerap mengalami desakralisasi akibat terjebak dalam pragmatisme politik, langkah ini menandai reorientasi gerakan menuju khittah kepeloporannya sebagai gerakan intelektual (intellectual movement).

Disarpus Kota Bandung, sebagai institusi pengawal memori kolektif dan inkubator pengetahuan menyediakan ruang simbolis yang mempertemukan tradisi tajdid PERSIS dengan tantangan literasi masyarakat urban masa kini. Menjadikan literasi sebagai "nafas awal" kepemimpinan menegaskan kesadaran epistemologis bahwa seluruh gerak langkah organisasi, mulai dari perkaderan internal hingga advokasi kebijakan publik, harus senantiasa dijiwai oleh kedalaman riset, adab keilmuan, dan analisis realitas yang kritis (Iqra’).

Guna mentransformasi narasi simbolis pelantikan ini menjadi paradigma gerakan yang substantif, PD Hima Persis Kota Bandung direkomendasikan untuk menempuh langkah-langkah strategis berikut:

1. Pelembagaan Tradisi Riset Organisasi: Menjadikan unit kajian dan riset sebagai jantung perumusan arah kebijakan organisasi, sehingga setiap narasi dan aksi yang dikeluarkan oleh Hima Persis Kota Bandung memiliki basis data (evidence-based policy) yang solid (Fakih, 1996).

2. Penguatan Kolaborasi Strategis dengan Ekosistem Literasi: Membangun kemitraan berkelanjutan dengan Disarpus Kota Bandung, komunitas literasi lokal, serta perguruan tinggi untuk mengaktivasi ruang-ruang dialog publik, penerbitan karya ilmiah kader, dan pengabdian literasi di masyarakat urban (Khoirudin, 2017).

Dengan konsistensi menjalankan paradigma ini, PD Hima Persis Kota Bandung tidak hanya akan dilantik di rumah literasi, tetapi juga bertransformasi menjadi rumah bagi lahirnya gagasan-gagasan pencerah untuk kemajuan Islam, Kota Bandung, dan Indonesia.

Wallahu A’lam


Daftar Pustaka 

Abdullah, T. (1993). Sejarah dan masyarakat: Kesadaran sejarah dalam pembangunan. Pustaka Sinar Harapan. 

Dewayani, S., & Retnaningdyah, P. (2017). Suara dari marjin: Literasi sebagai praktik sosial. PT Remaja Rosdakarya. 

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung. (2018). Rencana strategis (Renstra) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung tahun 2018-2023. Pemerintah Kota Bandung. https://data.bandung.go.id/

Fakih, M. (1996). Masyarakat sipil untuk transformasi sosial: Membongkar mitos pembangunan. Pustaka Pelajar. 

Fatah, E. S. (1998). Bangkitnya gerakan mahasiswa: Analisis pergerakan mahasiswa Indonesia. LP3ES. 

Federspiel, H. M. (2009). Labirin ideologi Muslim: Persatuan Islam di Indonesia 1923-1957. LP3ES. 

Khoirudin, A. (2017). Pendidikan tajdid: Rekonstruksi pemikiran pendidikan Islam. Suara Muhammadiyah. 

Kuntowijoyo. (2006). Islam sebagai ilmu: Epistemologi, metodologi, dan etika. Tiara Wacana. 

Mastuhu. (2004). Menata ulang pemikiran Islam: Rekonstruksi paradigma pendidikan Islam. Safiria Insania Press. 

Pemerintah Kota Bandung. (2016). Peraturan daerah Kota Bandung nomor 08 tahun 2016 tentang pembentukan dan susunan perangkat daerah Kota Bandung. Lembaran Daerah Kota Bandung. https://jdih.bandung.go.id/produk-hukum/peraturan-daerah/2103

Shihab, M. Q. (1996). Wawasan Al-Quran: Tafsir tematik atas pelbagai persoalan umat. Mizan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Suara Pelajar di Bungkam, Jangan Salahkan Jika Pendidikan di Negri ini selalu Gagap!

Aku dan Rasa Cemas

Fungsi pendidik dalam Al-Quran adalah Dakwah