Kepada Idealitas
Tulisan
jelek rayarana:)
Aku
ingin tertawa, tapi terlalu banyak rapat.
Di
sebuah organisasi yang katanya punya tujuan mulia, aku melihat satu penyakit
lama yang masih diwariskan: kecurigaan dari atas ke bawah. Mereka yang duduk di
puncak struktur merasa paling ideologis, paling steril, paling suci dari segala
kepentingan. Sementara kami yang di bawah—yang mengerjakan logistik, menyusun
diskusi, mengajak orang berdialog—dituding bermain politik. Seolah setiap kerja
nyata harus diperiksa motifnya.
“Kenapa
mereka bikin acara tanpa izin kita?” kata salah satu dari mereka, yang tak
pernah hadir di acara manapun. “Kenapa bahas itu? Itu sensitif,” kata lainnya,
sambil menyusun dokumen strategi yang tak pernah dijalankan. Di atas sana,
idealisme dikurung dalam format-format prosedural, steril dari kehidupan nyata.
Kebalikannya, buku-buku mereka berdebu sebab memang jarang dibuka.
Kami
dicurigai karena terlalu dekat dengan orang-orang yang mereka anggap lawan.
Kami dituding punya agenda tersembunyi karena kami membaca buku yang tak ada di
kurikulum pelatihan mereka. Kami ditandai karena kami bergerak tanpa aba-aba
dari struktur. Tapi ironisnya, saat kami tak bergerak, kami juga dituduh pasif.
Apa sebenarnya yang mereka inginkan?
Mereka
bicara soal kejujuran, tapi takut pada pembicaraan terbuka. Mereka bicara soal
kaderisasi, tapi hanya percaya pada mereka yang mengangguk. Mereka bicara soal
membangun kesadaran kolektif, tapi tak pernah mendengar suara kolektif yang tak
disusun oleh mereka. Maka jadilah kami musuh yang harus diawasi, bukan kawan
yang diajak berbicara.
Aku
mulai mengerti, idealisme di puncak sering kali bukan lagi soal nilai, tapi
soal kontrol. Mereka ingin segalanya bisa dipetakan, dimanajerialkan,
disesuaikan dengan template organisasi. Sementara kami, dengan segala
kebingungan dan improvisasi, dianggap liar. Mereka lupa bahwa akar tidak tumbuh
karena perintah dari daun. Akar tumbuh karena ia haus.
Maka,
kecurigaan menjadi struktur itu sendiri. Kami saling pandang dengan waspada. Sebuah
diskusi kecil bisa diartikan sebagai pembangkangan. Sebuah ajakan ngobrol
dianggap sebagai konsolidasi bayangan. Bahkan saling tersenyum bisa dikira ada
deal politik. Di sini, paranoia adalah sistem keamanan.
Kadang
aku ingin naik ke atas dan berkata, “Kami bukan musuhmu.” Tapi aku tahu itu
percuma. Karena dalam sistem yang dibangun atas dasar kepercayaan semu, logika
kecurigaan sudah menjadi iman. Mereka lebih percaya pada skenario konspirasi
daripada kerja-kerja sunyi yang tak bernama. Mereka lebih percaya pada prosedur
daripada keberanian mencoba.
Tapi
barangkali, mereka tak lagi mampu mendengar kami. Barangkali ruang itu sudah
terlalu tinggi, hingga suara kami terdengar sebagai desas-desus, bukan sebagai
kenyataan. Mereka mengira kami menyusun makar, padahal kami hanya ingin kopi
yang cukup untuk melanjutkan malam panjang. Mereka menuduh kami bersekutu
dengan lawan, padahal kami hanya berbicara dengan orang-orang yang tak mereka
kenal. Di mata mereka, yang tak bisa dikontrol adalah ancaman.
Aku
mulai merasa, idealisme yang mereka agung-agungkan tak lebih dari seragam yang
harus dipakai, bukan kesadaran yang harus dihayati. Mereka lebih takut struktur
goyah daripada kehilangan nalar. Lebih takut terhadap perbedaan pandangan
daripada kehilangan semangat belajar. Idealisme menjadi alat ukur yang hanya
bisa digunakan satu arah—ke bawah.
Mereka
bicara tentang sejarah perjuangan, tapi tak bisa menerima bentuk-bentuk baru
dari perlawanan. Mereka bilang kami terlalu cair, terlalu eksperimental,
terlalu banyak berpikir di luar koridor. Padahal, hidup tak pernah patuh pada
garis lurus. Kami hanya mencoba menjawab zaman, sementara mereka sibuk menjaga
doktrin. Mereka menjadi penjaga kuil dari sesuatu yang sudah lama kehilangan
jiwanya.
Ada
malam-malam di mana aku ingin berhenti. Bukan karena kalah, tapi karena lelah
dipandang sebagai pembelot oleh orang-orang yang dulu mengajarkan padaku
tentang pentingnya berpikir merdeka. Lucu. Orang yang mengajarkanku tentang
kebebasan kini yang pertama menuduhku berkhianat. Seakan kebebasan itu hanya
sah jika sesuai pedoman mereka.
Tapi
kemudian aku sadar, aku tak bisa menyerah. Karena jika semua orang yang
berpikir kritis mundur, organisasi ini hanya akan jadi museum nilai-nilai
kosong. Maka aku tetap hadir—meski tanpa sambutan, meski penuh curiga. Aku
menulis laporan, merancang agenda kecil, mengajak dua tiga orang bicara. Dalam
sunyi, aku tetap menyalakan api. Kecil. Tapi nyata.
Jika
suatu hari mereka membubarkan kami, mereka hanya akan menegaskan ketakutan
mereka sendiri. Ketakutan pada kehidupan yang tak bisa mereka kendalikan. Tapi
kami akan tetap hidup, entah dalam bentuk lain, entah dengan nama lain.
Mereka
mengubur kami. Tapi, mereka lupa bahwa kami adalah tunas.
Wallahu
A’lam.
Komentar
Posting Komentar